Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Tiga Langkah Dasar Agar Pribadi Menjadi Tenang Dalam Menghadapi Persoalan Hidup

Tiga Langkah Dasar Agar Pribadi Menjadi Tenang

Orang bahagia belum tentu tenang. Orang tenang sudah pasti bahagia. Untuk meraih ketenangan dalam menghadapi persoalan hidup ada beberapa pedoman dasar yang harus diperhatikan dan dilakukan.

Pedoman ini bagaikan jembatan yang harus dilalui dan dipatuhi agar tercapai ketenangan hidup.

Menjadikan Allah Sebagai Tujuan

Inilah pedoman yang prioritas. Dengan menjadikan Allah sebagai tujuan utama dan sekaligus tujuan akhir, maka otomatis seluruh amal perbuatan kita akan selalu murni.

Bila kehidupan kita entah mengenakkan atau menyedihkan, jika sifat ini telah menjiwai kehidupan kita, semua akan jadi indah dan menyenangkan.

Meskipun demikian, bukan berarti hal itu membuat kita cukup hanya berpasrah saja dalam menjalani kehidupan. Allah justru sangat menekankan betapa pentingnya usaha dari setiap makhluk untuk mengubah nasibnya sendiri.

Dia tidak ingin kita menjadi makhluk yang statis dan pasif, hanya menunggu dan tidak pernah menjemput atau membuat kesempatan-kesempatan baru. Berusaha dan berinovasi juga penting.

Berbagai jenis rintangan, liku-liku kehidupan, dan semua bentuk kesedihan dan kesusahan akan bisa dituntaskan. Sebab, kita yakin bahwa semua halangan itu tahapan menuju Allah.

Dengan demikian, menjadikan Allah sebagai tujuan hidup, maka yang kita dapati adalah ketenangan. Dan muaranya ketenangan sejati adalah diri kita.

Meningkatkan Pengendalian Diri

Pengendalian diri adalah menahan diri dari pengaruh sifat, sikap, tingkah laku, dan ucapan tercela yang dapat merusak ketenangan orang lain maupun diri sendiri.

Pengendalian diri sangat mempengaruhi ketenangan jiwa. Jika seseorang mampu mengendalikan diri dengan baik maka kehidupannya akan menjadi tenang, damai dan tentram.

Menjaga Hubungan Baik Dengan Sesama

Manusia adalah makhluk sosial, yang tidak lepas dengan kehidupan bermasyarakat, oleh karena itu manusia tidak bisa hidup sendiri tanpa bantuan orang lain. Manusia tidak lepas dari suatu permasalahan yang kadang-kadang perlu diselesaikan dengan bantuan orang lain. Bahkan persoalan pribadi sekalipun.

Dalam kehidupan sehari-hari manusia tidak terlepas dengan adanya keinginan-keinginan yang tidak terpenuhi. Hal inilah salah satu pemicu adanya kecemasan dalam jiwa. Dimanapun dan dengan siapapun semua memungkinkan munculnya masalah.

Namun jika diamati secara seksama ternyata sikap orang menghadapi masalah pun berbeda-beda. Ada yang begitu panik, goyah, kalut dan stres, tetapi ada pula yang menghadapinya secara mantap, tenang atau mungkin menikmatinya.

Walaupun demikian seseorang tidak akan mampu menghadapinya sendiri, mereka akan membutuhkan orang lain untuk membantunya, atau sekedar menemaninya dalam masalah tersebut.

Persahabatan yang erat yang di jalin oleh dua orang atau lebih, hal ini terjadi tidak lain untuk memperbanyak saudara serta mempermudah hidupnya.

Dalam persahabatan tersebut mereka akan merasa tenang karena dalam segala hal mereka saling berbagi. Jika ikatan persahabatan itu terjalin sangat akrab maka mereka akan ikut merasakan penderitaan atau kebahagiaan yang dirasakan oleh sahabatnya.

Ketenangan dalam hati dapat dirasakan apabila kebutuhan-kebutuhan manusia terpenuhi, baik itu kebutuhan jasmani maupun rohani.

Apabila kebutuhan tersebut tidak tercapai akan mengakibatkan kegelisahan dalam jiwa yang akan berdampak pada terganggunya ketenangan hidup.

Selain itu permasalahan dengan teman, saudara, sahabat, kawan kerja, tetangga, dan sesama manusia lainnya juga sangat mempengaruhi ketenangan jiwa kita.

Untuk itu sangat penting menjaga hubungan baik dengan sesama melalui silaturahmi (silaturahiim) atau menjaga pembicaraan yang baik seperti mengadakan musyawarah apabila terjadi kesalahpahaman.

Diantara kita banyak yang selalu menyalahkan dan membenarkan yang lain, sehingga terjadi perselisihan.

Perlu diketahui bahwa ada tiga penilaian Allah SWT yang perlu diketahui hambanya agar hambanya tidak kacau balau dalam menjalani kehidupan.

  1. Penilaian Allah SWT yang bersifat hak bersama, sehingga manusia dalam hidupnya terjadi sifat tolong menolong, bantu membantu dalam hal terpuji, bukan saling menghujat dan menyalahkan antara satu dengan yang lainnya.
  2. Penilaian Allah SWT yang bersifat hak pribadi masing-masing, sehingga manusia dalam hidupnya terjaga dari segala niat jahat dari orang lain, yaitu tentang perbuatan-perbuatan terpuji, yang berarti manusia lain tidak berhak untuk menilai seseorang dalam hal kebaikan dan keburukan amal ibadahnya kepada Allah SWT.
  3. Penilaian Allah SWT semata-mata tidak diijinkan kepada seluruh hambanya untuk menilai, yaitu dalam hal hasil ibadahnya kepada Allah SWT.

Semoga postingan yang pendek dan sederhana ini dapat bermanfaat bagi kita semua.

Ulfan R. Ake
Ulfan R. Ake Aku hanya seorang rakyat biasa

Posting Komentar untuk "Tiga Langkah Dasar Agar Pribadi Menjadi Tenang Dalam Menghadapi Persoalan Hidup"